REFRESENTASI MASYARAKAT TURATEA DALAM SISTEM PENAMAAN (Representation of the Turatea Society in Their Naming System)

Ramlah Mappau

Abstract


Sistem pemberian nama pada setiap daerah memiliki cara dan ciri tersendiri, untuk merefleksikan pikiran, nilai, dan status. Masyarakatnya, seperti halnya pemberian nama diri (areng karrasa) dan areng pakdaengan pada masyarakat Turatea. Masyarakat pendukung kebudayaan tersebut mengalami perubahan pandangan terhadap pemberian nama diri (proper name). Perubahan terjadi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terjadinya pembauran budaya menjadikan keluhuran nilai-nilai budaya mulai tergerus dan lambat laun ketradisionalan masyarakatnya menjadi memudar. Paradigma yang digunakan untuk membedah sistem penamaan adalah antropolinguistik dengan teknik survey lapangan, partisipasi (participant observation) peneliti melibatkan diri dalam masyarakatnya, dan pengumpulan data pustaka: buku-buku sejarah. Data yang dikumpulkan berasal dari nama-nama yang lahir pada 1800-an–1940-an. Selanjutnya, data dicatat, diklasifikasikan, kemudian dianalisis. Metode deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan dan mengungkapkan makna dibalik penamaan masyarakat Turatea dalam sistem penamaan dan mengaitkannya dengan nilai budaya yang ada pada masyarakatnya berdasarkan makna yang dimunculkan. Berdasarkan hasil telaah nama pertama dengan nama kedua memiliki keterkaitan melalui permainan logika semantik yang sarat makna dan nilai budaya. Adapun makna dibalik pemberian nama tersebut, berbentuk perintah atau keharusan untuk berbuat kebaikan dan harapan yang baik. Gejala (latar) alam semesta, keadaan, dan pengetahuan agama menjadi dasar dalam pemberian nama. Dua nama yang dimiliki oleh masyarakat, yaitu areng karrasa dan areng padaengan  merupakan nama yang berbeda pemakaian dan peruntukkannya. Adanya nama kedua (areng pakdaengan/kakaraengan)hanya melekat pada kelas sosial menengah.

Keywords


Turatea, system, Named

Full Text:

PDF

References


Abbas. (2012) Sistem Tradisional Penamaan

Diri Orang-Orang Makassar-Indonesia.

Prosiding Kongres Internasional II

Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan,

hlm. 344-354. Makassar: Balai Bahasa

Prov. Sulawesi Sealatan dan Prov.

Sulawesi Barat, Badan Pengembangan

dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Arief, Aburaerah. (1995), Kamus Makassar-

Indonesia. Ujung Pandang: Yayasan

Perguruan Islam Kapita*DDI*.

Bin Abdillaah, Abdussalaam. (2017) Pendidikan

Anak dalam Cahaya Al-Qur'an dan As-

Sunnah. Untuk kalangan sendiri.

Chaer, Abdul. (2013), Pengantar Semantik

Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Djajasudarma, T. Fatimah. (1993), Semantik

Pengantar ke Arah Ilmu Makna. Bandung:

Erasco.

------------. (1999), Pemahaman Ilmu Makna.

Bandung: Refika Aditama.

Duranti, Alessandro. (2000), Linguistic

Anthropology. Reprinted. Cambridge:

Cambridge University Press.

Hasyim, Munirah (2016). Perubahan Sistem

Penamaan Nama Diri https://docplayer.

info/55876222-Munira-hasyim-dosenpada-

jurusan-sastra-indonesia-fakultasilmu-

budaya-universitas-hasanuddinmakassar.

html diakses pada pukul 8.00.

Diakses pada tanggal 24 Januari 2019.

Hymes, Dell. (1964), Languange in Culture and

Society. New York: Harper and Row.

Iswary, Erydan Rahim bin Aman. (2001).

"Acculturation of Language and Culture

through Manifestation of Lexical Usage in

Cross Indonesia-Malay Language" dalam

Jurnal Melayu, hlm. 49-56. Diakses dari

http//www.ukm.my pada tanggal 5 Januari

Kramsch, Claire. (1998), Language and Culture.

Oxford: Oxford University Press.

-------------.(2000), Language and Cultur.

Oxford: oxford University Press.

Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamus

Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Kurniawaty, Laila. (2007) Pemberian Nama

dalam Masyarakat di Pulau Binongko,

Sawerigading, Vol. 25, No. 1, Juni 2019: 33-45Kandai: Majalah Ilmiah Bahasa dan

Sastra, Volume 1, Tahun II, Juli 2007, hlm.

--46. Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi

Tenggara.

Maknun, Tadjuddin. (2010) Lontarak: Arti. Asal

Usul dan Nilai Budaya yang Dikandungnya

dalam Industri Budaya-Budaya Industri:

Kongres Kebudayaan Indonesia 2008;

hlm. 667--679.

Pateda, Mansoer. (2010), Semantik Leksikal.

Jakarta: Rineka Cipta.

Sariah. (2012). Antroponimi dalam Obituari

Keturunan Tionghoa: Sebuah Tinjauan

Deskriptif. Metalingua: Jurnal Penelitian

Bahasa, Vol. 10, No.2, hlm. Desember

Jawa Barat: Balai Bahasa Provinsi

Jawa Barat.

Sibarani, Robert. (1993), Pemberian Nama

sebagai Awal Pemunculan Linguistik:

Makna Nama dalam Bahasa Nusantara.

Bandung: PT Bumi Siliwangi.

---------------. (2003). Kearifan Lokal Hakikat,

Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta :

Asosiasi Tradisi Lisan.

---------------. (2004), Antropolinguistik: Antropologi

Linguistik, Linguistik Antropologi.

Medan: Penerbit Poda.

Spradley, James P. (2006). Metode Etnografi.

Yogyakarta: Tiara Wacana, Edisi I.

Sufika, Arwina, (2007), Fungsi Bahasa dalam

Perspektif Promosi Pariwisata" dalam

Chaiyanara (editor) Kesinambungan dan

Pemantapan Bahasa di Asia Tenggara.

Singapura: Rancangan Pertumbuhan

Linguis ASEAN.




DOI: http://dx.doi.org/10.26499/sawer.v25i1.548

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 SAWERIGADING

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

SAWERIGADING INDEXED BY:

 Google Scholar Indonesian Scientific Journal Database (ISJD) WorldCat 

 

________________________________________________________________________________

@2016 Sawerigading, Balai Bahasa Prov. Sulawesi Selatan dan Prov. Sulawesi Barat. Powered by OJS  

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.