MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM GELONG PARE TORAJA

NFN Sabriah

Abstract


The tribe of Toraja in South Sulawesi does not have written heritage. Nevertheless, Toraja tribe has oral tradition found in this are based on its version. The oral tradition is told by local traditional elders at the certain time, especially, at the time of harvest. The discussion about gelong pare intends to describe meaning implied, especially denotative and connotative meaning. Method used is descriptive qualitative by using recording technique, library study, and interview. Result of analysis shows that there are denotative and connotative meanings in gelong pare such as saqpuq, tagari, sumaniu, and puluq-puluq pare having synonym meaning. The words imply denotative meanings that refer to a fragrance plant. Whilst, its connotative meaning is the offering or thankfulness in regarding the harvest.

 

Abstrak Suku Toraja di Sulawesi Selatan tidak mempunyai peninggalan tertulis. Meskipun demikian, suku Toraja mempunyai hasil sastra lisan yang ditemukan di daerah ini menurut versinya masing-masing. Hasil sastra lisan tersebut diceritakan oleh tetua adat setempat pada waktu tertentu, misalnya pada saat melaksanakan upacara panen. Pengkajian tentang gelong pare bertujuan mendeskripsikan makna yang terkandung didalamnya khususnya makna denotatif dan makna konotatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik perekaman, studi pustaka, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat makna denotatif dan konotatif dalam gelong pare seperti kata saqpuq, tagari, sumaniu, dan puluq-puluq pare mempunyai makna yang bersinonim. Kata-kata tersebut mengandung makna denotatif yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan yang berbau harum. Sedangkan makna konotasinya adalah persembahan atau ucapan syukur dalam rangka pesta panen.


Keywords


denotative; connotative meaningg; Gelong Pare; makna denotatif; konotatif; Gelong Pare

Full Text:

PDF

References


Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Sema.ntik dalam Djoko Kentjono (Penyunting). Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Muhajir. 1990. Sema.ntik dalam Dasar-Dasar Linguistik Umum. Fakultas Sastra Universitas Indonesia: Jakarta

Palmer, F.R. 1965. Semantics. A New Out Line London: University Press.

Pongsapan, Nehru Pasoloran. 1988. Gelong Pare dalam Masyarakat Toraja. Skripsi. Unhas.

Salombe, C. 1972. Orang Toraja dengan Ritusnya. In Memorial Lesoq Rinding Pua.ng Sangallaq

Sande, J.S. et.al.1985. Gelong Sa.ngpuh Dua. Depdikbud. Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan, Sulsel La Galigo.

Sitonda, Mohammad Natsir. 2007. Toraja Warisan Dunia. Makassar: Refleksi.

Tangdilintin, L.T. 1976. Tongkonan. Rantepao: Yayasan Lepongan Bulan..

---------------, 1987. Singgiq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan. La Galigo.




DOI: http://dx.doi.org/10.26499/sawer.v17i3.419

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 SAWERIGADING

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

SAWERIGADING INDEXED BY:

 Google Scholar Indonesian Scientific Journal Database (ISJD) WorldCat 

 

________________________________________________________________________________

@2016 Sawerigading, Balai Bahasa Prov. Sulawesi Selatan dan Prov. Sulawesi Barat. Powered by OJS  

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.