PENANDA DEIKSIS DALAM CERITA SAWERIGADING

NFN Herianah

Abstract


A literay work cannot be separated from deictic markers. Deictic marker will take the reader to understanding the idea conveyed by the author. In the other side. Unclear deictic gives the possibility of being mis interpreted. In Sawerigading deistic markers found are first singular pronoun such as I, first plural pronoun such as we. Second singular and plural pronoun are you. Third singular pronoun is he/she. Deictic of  proper noun found in Sawerigading is a name of honor such as son, dear mother, my lord, me, the sailor, proper noun of a bird Samparuno. Deictic markers in Sawerigading are here and there. In this writing, lexem of deictic time is now, later, and one day, while lexem of undeictic time is for three month, day, nigh, many night, and seven night.  
 
 
 
 
Abstrak Sebuah karya sastra tidak terlepas dari pemarkah-pemarkah deiksis. Dengan adanya penanda deiksis akan mengantar pembaca untuk memahami ide yang ingin disampaikan oleh pengarang. Sebaliknya, deiksis yang kabur kemungkinan akan memberikan penafsiran yang tidak tepat. Dalam cerita Sawerigading ditemukan beberapa penanda deiksis yaitu pronomina pertama tunggal, yaitu  aku, saya; pronomina pertama jamak yaitu kami dan kita. Pronomina kedua tunggal yaitu engkau; pronomina kedua jamak yaitu kalian. Pronomina ketiga tunggal yaitu dia/ia  dan beliau. Deiksis nama diri yang ditemukan dalam cerita Sawerigading adalah sebutan ketakziman seperti ananda, ibunda, Paduka Yang Mulia, daku, si pelaut/sang pelaut, nama diri seekor burung yaitu si Samparuno. Deiksis penunjuk dalam cerita Sawerigading adalah leksem di sini, di sana, dan sana. Dalam tulisan ini leksem waktu yang deiksis adalah leksem kini, nanti, dan kelak, sedangkan leksem waktu yang tidak deiktis adalah tiga bulan lamanya, siang, malam, puluhan malam, dan selama tujuh malam.
 


Keywords


deictic ; story of Sawerigading ; deiksis ; cerita Sawerigading

Full Text:

PDF

References


Abbas, Asriani. 2002. “Penggunaan Deiksis dalam Drama Perahu Nuh II Karya Aspar”. (Tesis tidak diterbitkan). Makassar: PPs Unhas.

Abdullah, Andi. 2003. Cerita Sawerigading. Makassar: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotika. Yogyakarta: LKIS

Djajasudarma, T. Fatimah.1999. Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.

Hastianah. 2009. “Deiksis dalam Sinrilik Kappalak Tallung Batua”. Makassar. Balai Bahasa Ujung Pandang.

Kaswanti Purwo, Bambang, 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Seri ILDEP. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Manuputty, David G. 2000. “Deiksis dalam Pertuturan Bahasa Makassar”.

Sawerigading No.11 Hlm. 7--86. Makassar: Balai Bahasa Ujung Pandang.

Tupa, Nursiah. 1998. “Penanda Waktu dalam Bahasa Makassar”.

Bunga Rampai Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra. Ujung Pandang: Balai Bahasa Ujung Pandang.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum.

Jogyakarta: Gadjah Mada University Press.




DOI: https://doi.org/10.26499/sawer.v16i1.284

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 SAWERIGADING

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

SAWERIGADING INDEXED BY:

 Google Scholar Indonesian Scientific Journal Database (ISJD) WorldCat 

 

________________________________________________________________________________

@2016 Sawerigading, Balai Bahasa Prov. Sulawesi Selatan dan Prov. Sulawesi Barat. Powered by OJS  

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.